Ini karena Belanda bangsa pedagang dan menjalankan prinsip-prinsip Seni Perang yang diajarkan Sun Tzu.
Saya bukan sejarawan, silahkan ragukan pendapat saya, tapi begini:
1. Sun Tzu
“Tak satupun negara yang diuntungkan perang berkepanjangan.”
Artinya perang harus segera dihentikan begitu muncul peluang mengakhiri. Perang tak harus diakhiri dengan menghabisi seluruh musuh, yang penting tujuannya (mempertahnkan wilayah) tercapai.
Belanda sadar betul mahalnya peperangan. Habis Perang Diponegoro, misalnya mereka jalankan Tanam Paksa buat nutup APBN yang habis untuk lawan Diponegoro.
2. Sun Tzu:
“Saat mengepung pasukan musuh, biarkan satu pintu keluar terbuka.”
“Jangan terlalu menekan musuh yang sudah putus asa.”
“Musuh yang putus asa akan kehilangan urat takutnya. Jika tidak ada tempat untuk menyelamatkan diri, mereka menjadi tangguh.’
Saat posisi musuh sudah terjepit dan pilihannya hanya menang atau mati, mereka menjadi tangguh.
Ingat cerita tentara Arab yang membakar perahu agar berjuang sampai mati di Spanyol? Atau tentara Jepang terus diiindoktrinasi kalau ditangkap Amerika bakal disiksa?
Itu sebabnya Belanda memberi jalan keluar ketiga. selain menang atau mati, yaitu berunding dan paling nanti diasingkan.
Sedang bawahannya dapat amnesti.
Ini jauh lebih murah daripada menghadapi pasukan Diponegoro atau Imam Bonjol yang bertambah tangguh karena sudah terjepit.
Seperti Tjut Nya’ Dien yang ditangkap Belanda ini.
Sikap Belanda yang lunak terhadap Cut Nyak Dien ini, setelah pejuang dari Aceh ini ditangkap, juga bagian dari membujuk para pejuang Aceh. Bahwa ada jalan ketiga, selain menang atau mati
Belanda lebih untung.
